Adakah Dampak Yang Ditimbulkan Oleh Warna Terumbu Karang Yang Terus Memutih ?

0
921

pdkt.me – Terumbu Karang Terus Memutih, Apa Dampaknya Bagi Manusia?

Memutihnya Terumbu Karang Karena Pemanasan Air Laut 

Terumbu karang yang menjadi tempat tinggal makhluk laut dan biota laut lainnya akhir-akhir ini keberadaannya semakin memprihatinkan. Selain karena perubahan iklim, banyak pula faktor lainnya yang memperparah kerusakan yang terus terjadi. Demikian hasil temuan terbaru yang diungkapkan ke media.

Dalam penelitian tersebut diungkapkan bahwa karang memutih lebih banyak dan lebih sering karena pemanasan perairan laut. Pemutihan karang ini bisa menyebabkan karang tersebut mati.

Padahal, seperti yang kita ketahui, karang merua=pakan penyedia makanan dan keuntungan bagi ribuan spesies. Maka, risiko bahwa karang akan menghilang di masa depan bisa saja terjadi jika kita tak menghentikan perubahan iklim.

Temuan ini didapatkan setelah para peneliti menganalisis data tentang kejadian di 100 lokasi terumbu karang di seluruh dunia mulai dari 1980 hingga 2016. Mereka menemukan bahwa tingkat pemutihan karang meningkat lebih dari empat kali lipat dalam periode tersebut.

Dari hasil penelitian yang publikasinya terdapat dalam jurnal science ini, diketahui bahwa pemanasan pada air laut lah yang menyebabkan terjadinya fenomena ini.

Pemutihan sendiri terjadi karena alga berwarna-warni yang hidup dalam karang dikeluarkan. Biasanya, hal ini terjadi karena air di sekitarnya terlalu hangat atau terlalu dingin, karena pasang surut yang ekstrem.

Sayangnya, hal ini merupakan bencana untuk terumbu karang. Itu karena alga atau ganggang menyediakan 90 persen energi karang.

Sekalipun penelitian sebelumnya telah banyak mengungkap fakta pemutihan pada terumbu karang yang berakibat matinya terumbu karang. Dari penelitian ini diketahui efek yang jauh lebih mengerikan yang bisa terjadi hingga beberapa abad ke depan jika fenomena ini terus terjadi.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pemanasan global menyebabkan karang memutih dan kadang mati. Namun penelitian terbaru ini memberi gambaran nyata seberapa sering kejadian pemutihan ini sekarang terjadi dibanding di masa lalu.

“Jumlah percepatan yang kami lihat benar-benar mengejutkan,” kata Mark Eakin, ahli terumbuh karang dikutip dari The Verge, Kamis (04/01/2018).

“(Ini) membingungkan dan angat menakutkan saat Anda mempertimbangkan apa artinya bagi masa depan terumbu karang,” sambung lelaki yang menjadi koordinator NOAA’s Coral Reef Watch tersebut.

Bukan ketika EL-NINO saja pemutihan karang bisa terjadi, bahkan pada kondisi lainnya hal ini bisa sering terjadi, utamanya ketika air laut sedang memanas karena pola iklim yang berulang tanpa henti. Cuaca juga membawa air hangat ke Samudera Pasifik tropis juga mempengruhi cuaca di seluruh dunia.

Menurut Eakin, salah satu pemutihan karang global terjadi mulai pada Juni 2014 dan berlanjut selama tiga tahun pada Mei 2017.

Tery Hughes, co-author penelitian ini menyebut bahwa sebelum 1980-an, kasus pemutihan karang tidak pernah terjadi. Hughes juga menjelaskan, pemutihan karang pernah terjadi pada 1980-an dan 1990-an.

Hal ini terjadi terutama saat El Nino yang sangat kuat. Tapi saat ini perairan laut begitu hangat sehingga “tidak memerlukan El Nino untuk tingkat pemutihan karang bahkan dalam skala global,” kata Eakin.

Kehilangan terumbu karang merupakan hal buruk bagi lingkungan dan manusia. Pasalnya, lebih dari 25 persen spesies laut bergantung pada terumbu karang untuk bertahan hidup.

Selain itu, terumbu karang juga melindungi garis pantai dari badai dan menyediakan makanan untuk masyarakat di negara seperti Indonesia dan Filipina. Di Australia, terumbu karang yang disebut Great Barrier Reef menyediakan pendapatan dan lapangan kerja dari sektor pariwisata dan penangkapan ikan bagi hampir 70.000 orang.

Mungkin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan perubahan iklim bisa menjadi cara terbaik untuk melindungi terumbu karang. Membatasi emisi gas rumah kaca utuk memenuhi kesepakatan Paris yang menjaga pemanasan global di bawah 1,5 sampai 2 derajat Celcius adalah kunci, kata Hughes.

Cara lainnya yang bisa dilakukan manusia untuk mengurangi kerusakan lingkungan di laut adalah dengan mengurangi penangkapan ikan berlebih, dan terutama sekali, mengurangi sampai menghentikan polusi air.

Karena kekhawatiran yang mendalam, para ahli kini mengembangkan spesies karang super yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh pemanasan air. Lebih jauh lagi, agar pemanasan penyebab pemutihan di karang tidak terjadi lagi, cara untuk mendinginkan air laut sedang dikembangkan oleh para peneliti Australia tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here