Ancaman Narkoba di Daerah Perbatasan dan Peran Kita sebagai Generasi Milenial

283

Walau ancaman hukuman mati bagi pengedar narkoba dan sudah dibuktikan dengan ketegasan pemerintah dalam eksekusi terhadap narapidana mati selama periode 2015-2016 kemarin, namun bisnis haram narkoba tetap saja tidak berkurang. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam tahun 2015 saja penyalahgunaan narkoba ada sebanyak 5,9 juta. Jumlah ini meningkat signifikan  dari 3,8 juta dibandingkan pada tahun 2014. Yang lebih mengerikan lagi, sebanyak 75 persen narapidana kasus narkoba masih mengontrol bisnis narkoba dari dalam penjara.

 

Sebagai bagian dari kejahatan internasional, ancaman terbesar peredaran narkoba ada pada daerah perbatasan. Luasnya wilayah darat Indonesia khususnya perbatasan darat dengan Malaysia di Kalimantan Utara, menjadi tantangan terbesar kedua setelah kedaulatan wilayah. Uraian dibawah ini membahas betapa peliknya potensi masalah ini yang harus menjadi perhatian bersama khususnya bagi generasi muda.

 

Perbatasan Kalimantan Utara, Salah Satu Daerah Rawan Masuknya Narkoba ke Tanah Air

 

Ada dua kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia yaitu Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau dimana salah satu kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia adalah Kecamatan Sebuku. Di perbatasan tersebut terbentang Sungai Sembakung di sebelah hulu masuk wilayah Sabah (Malaysia) sedang di hilir masuk wilayah Indonesia. Lalu lintas perdagangan di sungai ini sangat menyulitkan untuk proses pengecekan keluar masuk barang, karena luasnya wilayah dan terbatasnya pos penjagaan.

Aktivitas masyarakat di sepanjang perbatasan Indonesia dengan Malaysia banyak menggunakan jasa ketinting atau perahu kayu bermotor. Dari kecamatan yang cukup besar di Mansalong, Kabupaten Nunukan, menuju wilayah perbatasan di Kecamatan Lumbis Ogong dan Desa Sumantipal hanya bisa diakses menggunakan perahu tersebut. Perjalanan memerlukan waktu hampir empat jam. Dengan kondisi seperti itu, Pemerintah Kabupaten di Nunukan sendiri harus berusaha keras untuk setiap hari melakukan peninjauan ke wilayah perbatasan agar pelayanan masyarakat tetap baik.

Perbatasan darat antara Indonesia-Malaysia yang sangat panjang membentang sepanjang 2.019 km dari Tanjung Batu di Kalimantan barat, melewati dataran tinggi pedalaman Kalimantan, hingga ke Teluk Sebatik dan Laut Sulawesi di sebelah Utara Kalimantan cukup menyulitkan dalam proses pengawasan lalu lintas barang.

 

Selain dengan Malaysia, Indonesia juga Berbatasan dengan Filipina, Disinyalir Berpotensi Jadi Salah Satu Jalur Masuknya Narkoba ke Tanah Air

 

Selain dengan Malaysia-Indonesia juga berbatasan dengan Filipina, tepatnya di Miangas yang menjadi pulau terluar Indonesia yang terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk ke dalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Miangas adalah salah satu pulau yang tergabung dalam gugusan Kepulauan Nanusa yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Kondisi pulau paling utara Indonesia yang berbatasan dengan Filipina, Miangas masih jauh dari prasyarat standar sebagai pintu gerbang Indonesia ke kawasan Asia Pasifik khususnya sebagai gerbang perbatasan dengan Filipina. Jangankan untuk memberikan pelayanan terhadap tamu dari luar, untuk mencukupi kebutuhan primernya pun Pulau Miangas masih kesulitan. Selain itu soal jumlah pengamanan dari personel Polri atau TNI juga masih belum mencukupi.

Misalnya saja wilayah Tagulandang yang masuk dalam wilayah hukum Polsek Tagulandang, Polres Sangihe, dimana perairan di wilayah ini berbatasan langsung dengan negara Filipina. Bahkan diduga wilayah ini kerap menjadi lokasi perdagangan ilegal sehingga rawan terjadi penyalahgunaan narkoba.

Filipina sejauh ini punya masalah serius dengan penyalahgunaan narkoba dan menerapkan kebijakan sangat keras terhadap para pengedarnya. SHABU yang merupakan salah satu jenis ATS (Amphetamine-Type Stimulants) yang beredar di Indonesia ternyata banyak yang berasal dari luar negeri. Menurut  data UNODC Asia Pasifik, Global SMART Update 2012, sepertiga dari ATS global dan setengah dari metamfetamin global yang disita pada tahun 2010 berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara yang diproduksi di Tiongkok, Myanmar, dan Filipina.

Pemerintah sangat serius mengatasi masalah perdagangan ilegal narkoba ini yang terkait dengan masalah perbatasan ini. Salah satunya semakin diperketatnya pengawasan di Kampung Nanedakele terletak di Pulau Bukide (Tinakareng) Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara yang masuk dalam kawasan Border Crossing Agreement (BCA).

 

 

Tembakau Gorila, Narkoba Jenis Baru yang Sering Tidak Disadari Penggunanya

 

Belakangan ini, masyarakat mulai rame dengan pemberitaan mengenai hadirnya tembakau super cap Gorila yang terindikasi mengandung bahan berbahaya sejenis narkoba. Tembakau Gorila disinyalir marak beredar di kalangan para remaja dengan cara sembunyi-sembunyi.

Tembakau gorila ini memberi efek berbahaya karena distimulan dengan ganja sintetis, termasuk bagian dari NPS (new psychoactive substances). Tembakau Gorila bisa berdampak buruk bagi kesehatan yang bisa membuat saraf otak terganggu, seperti orang gila, dan daya tahan tubuh turun drastis. Berdasar informasi terbaru, tembakau gorila mengandung zat kimia AB-CHMINACA, yang dapat menimbulkan efek halusinasi seperti ganja.  Bahaya lainnya adalah menyebabkan candu, menurunkan kinerja otak, menimbulkan halusinasi atau halusinogen, persis dengan efek mengkonsumsi zat psikotropika. Cara gampang deteksi dampak buruk dari halusinogen adalah melihat warna acak dan melihat sesuatu yang tak ada seolah nyata.

Ada kabar terbaru yang perlu diketahui masyarakkat mengenai tembakau cap Gorila ini yaitu Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dimana, tembakau gorila sudah resmi masuk golongan narkotika mulai Kamis 12 Januari 2017. Menurut BNN, baik pengedar ataupun pengguna tembakau ganja sintetis itu dapat terjerat pidana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

 

Peran Generasi Muda Menangkal Bahaya Narkoba di Perbatasan Kalimantan Utara

 

Mengenal  Generasi Milenial

Teori Generasi (Generation Theory) yang diperkenalkan oleh Strauss-Howe, membagi generasi dengan istilah generasi X, Y, dan Z.  Ancaman narkoba ini paling berbahaya mengincar generasi Generasi Y yaitu generasi yang lahir tahun 1981-1994.

Generasi Y disebut juga sebagai generasi millennial. Generasi ini merupakan pengguna pertama teknologi komunikasi instan seperti SMS, email, media sosial seperti facebook, twitter dll. Karakteristiknya berbeda-beda, tergantung bagaimana cara keluarga dan lingkungan mendidiknya. Memiliki pola komunikasi yang lebih terbuka dan sangat memberikan perhatian lebih pada kekayaan dan kesejahteraan, serta kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi.

 

Peran serta kaum mileniall memanfaat sosial media untuk melawan narkoba

Anak muda cenderung melakukan banyak hal karena ikut-ikutan teman, atau informasi dari media sosial yang dia lihat. Oleh karena itu penting kiranya sebagai generasi milenial kita berperan aktif dalam menumbuhkan sensibilitas terhadap isu narkoba.

Kita bisa membantu pemerintah melawan bahaya narkoba dengan memberikan informasi bahaya narkoba melalui berbagai media sosial dan juga lebih menekankan dampak serius yang bisa ditimbulkannya.

Hampir semua pelajar pasti tahu dan bisa saja menjadi pengguna aktif twitter, facebook, path, instagram, maupun youtube. Jika media-media sosial itu digunakan untuk kampanye anti narkoba pasti akan sangat dahsyat sekali. Apalagi bagi warga di perbatasan Kalimantan Utara dengan Malaysia dan Filipina yang lebih mudah dijangkau dengan teknologi daripada dengan transportasi darat maupun laut.

Kampanye anti narkoba bisa dengan cara menampilkan contoh-contoh narkoba dan zat adiktif lainnya seperti ganja, sabu-sabu, pil ekstasi, hingga narkoba jenis baru yang bentuknya menyerupai permen yang targetnya adalah pelajar, maupun tembakau Gorila yang saat ini banyak beredar secara sembunyi-sembunyi.

Genarasi milenial saat ini menjadi sasaran utama peredaran narkotika. Bahkan tidak hanya di tingkat SMA maupun SMP, narkoba juga sudah merambah pelajar tingkat SD.

 

Pecandu narkoba itu adalah korban, sebagai generasi muda, kita harus bantu mereka

Kondisi kejiwaan anak muda yang agresif dan pragmatis menjadi sasaran peredaran narkoba. Penyalahgunaan narkoba sangat rentan terjadi pada pelajar lantaran kondisi mental mereka masih labil dan mudah dipengaruhi. Apalagi kini narkoba tersaji dalam berbagai bentuk yang tak jarang tidak diketahui pemakainya.

Sempat ada wacana pengguna narkotika bakal dipidanakan, dimana penjara diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi pengguna narkotika walaupun masih jadi polemik. Sampai dengan saat ini, pemerintah tetap mengacu pada UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika agar pengguna narkotika tetap direhabilitasi. Peran generasi muda adalah membantu kampanye anti narkoba dan ikut membantu korban yang terkena dampak narkoba melalui program rehabilitasi pemerintah.

Oleh karena itu jika ada keluarga atau sahabat yang menjadi korban narkoba, jangan mereka di jauhi tapi rangkul mereka dan berikan informasi bahaya narkoba dan bagaimana cara lepas dari jeratan narkoba tersebut.

Semoga dengan menggandeng anak muda menanggulangi bahaya narkoba dengan perantara media sosial diharapkan bisa efektif menanggulangi peredaran narkoba yang terjadi selama ini dengan seluruh keterbatasan di daerah perbatasan.

 

Oleh : Hadi Istanto, S.Kom.

Pendiri & Admin PDKT

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here