Kaum muda Tarakan: Generasi krisis Teladan ?

0
379

Pdkt.me – Saat saya kecil, hutan bakau merupakan guru saya dan teman-teman, sekaligus tempat bermain. Sepulang sekolah, saat libur, kami bermain perang-perangan, membuat rumah pohon di Bakau, termasuk mencari makanan yang disedikan oleh alam, seperti kepiting, ikan, buah nipah, buah bakau.

Menjelang remaja, bakau masih menjadi idola tempat kami cari kepiting, bergosip, kami meneladani para penyanyi Malaysia, Iwan Fals dan Ustad Zainuddin MZ serta yang paling penting, Guru Salim, Imam Mesjid sekaligus guru ngaji kami. Beliau sangat berilmu ,tapi tak pernah kami panggil ustad, cukup guru.

Banyak diantara kami yang prestasi akademik di sekolah, biasa-biasanya aja, bahkan lebih sering akrab dengan nilai merah menyala. Bukannya orang tua kami tak menyuruh kami belajar, sering bahkan. Masalahnya, mereka juga sama tidak pahamnya dengan pelajaran kami disekolah. Mereka tak pernah sekolah, ada yang tak bisa membaca, mereka nelayan kecil, ada yang tukang jual buntut atau togel, ada tukang gesek kayu juga. Jadi jangan bayangkan, orang tua yang akan membimbing anak-anaknya mengejar cita-cita yang tinggi.

Kami besar sebenarnya, tanpa cita-cita, membiarkan takdir yang bekerja, menentukan kami mau jadi apa. Pasrah tingkat dewa. Namun, kami selalu meneladani kebaikan, diantara banyaknya orang teler karena minuman keras, saat itu.

Sebaliknya, generasi zaman now, menikmati fasilitas dan informasi yang berlimpah, berkecukupan dan terutama orang tua yang lebih berpengetahuan, membimbing. Pemerintah kini memiliki banyak inovasi program untuk warga negara. Banyak pemuda lebih berdaya, mereka memiliki harapan dan alternatif menentukan masa depannya, takdirnya. Namun, tantangan terbesar yang kini dihadapi para muda mudi Tarakan adalah peradaban yang berintegritas, mereka terus disajikan informasi yang melimpah tapi tak berkualitas. Pemerintah kerap kali mengatakan propaganda negara demokratis tapi sebenarnya minim kualitas.

Para pemuda ini terus mendapat tekanan atas dunia yang kini lebih kompetitif, hilangnya nilai solidaritas, menebalnya hedonisme dan materialistik. Para pemuda konstan tereskpos bahwa ukuran keberhasilan dan sukses kita harus kaya, apa pun caranya. Tantangan para pemuda saat ini juga termasuk krisis keteladanan (role model), ada kegamangan atas siapa yang patut dipercaya. Terlalu banyak informasi yang harus mereka terima, termasuk berita bohong, sementara terlalu banyak kompleksitas untuk menyaringnya. Disisi lain, kaum muda seperti apatis atas banyaknya kondisi ketidakadilan dimasyarakat, dan seketika, nampaknya harapan Soekarno, sulit diraih, apalagi hanya dengan 10 pemuda.

Dunia kaum muda yang rentan atas mafia narkoba, tidak berdaya atas budaya KKN dunia kerja, dan peran minus dewan terhormat, budaya apatis, masa bodo semakin mengkristal. Jelas bukan kesalahan kaum muda, mereka kehilangan keteladanan.


Untuk itu, diperlukan upaya keras untuk merekonstruksi cara berpikir kaum muda meletakkan kembali membangun peradaban yang berasaskan nilai integritas, kesederhanaan, dan kritis. Upaya ini tentu saja perlu keteladanan dan upaya sinergi dari semua pihak, khususnya pemerintah, institusi pendidikan, tokoh masyarakat, masyarakat sipil, dll. Keteladanan sangat diperlukan, khususnya membangkitkan gairah dan solidaritas atas sesama.

Beberapa inisiator penggerak kaum muda

Bersyukur sekali, di kota Tarakan telah banyak inisiator penggerak meraih peradaban sipil yang berintegritas melalui komunitas sampah, komunitas berbagi, komunitas lingkungan, kepemudaan, donor darah, literasi, pendidikan politik, dan lain lain.

Sebut saja, Rendy Ipin, anak muda asal Kampung Pukat yang menginisiasi pendidikan literasi sastra yang telah melalang buana diberbagai daerah demi menegaskan kekuatan sastra dalam membentuk peradaban manusia.

Kemudian, kita mengenal Aryono Putra, anak kampung asal Salimbatu yang concern pada isu kepemudaan khususnya pemuda dan pelajar rumpun Tidung, melalui gerakan mahasiswa pemuda rumpun Tidung – GADAMARUTI. Gerakan ini secara masif tumbuh diberbagai kabupaten kota di Kalimantan Utara dan secara signifikan berkontribusi terhadap pentingnya kehadiran negara dalam membantu kaum muda. Aryo, panggilan kecilnya, telah meneguhkan diri mengejar passion nya untuk menjadi calon legislatif DPRD Kabupaten Bulungan dari partai PAN dan meninggalkan profesi terhormat sebagai dosen di Universitas Borneo Tarakan. Suatu usaha yang perlu didukung oleh kita karena kompetensi dan pengalamannya sangat relevan.

Reading opens the door to unlimited knowledge, membaca membuka cakrawala pengetahuan yang tak terbatas, kalimat ini yang selalu dipegang teguh oleh Sarinah, srikandi literasi Kalimantan Utara, melalui OPOB, one person one book. Komunitas OPOB ini telah menyebarkan virus-virus kebaikan khususnya bagi anak-anak yang menjadi kelompok targetnya. Tak heran, sebuah project nasional bernama INOVASI yang didanai oleh pemerintah Australia menggandeng OPOB untuk berkolaborasi dalam pendidikan literasi di Kalimantan Utara.

Saat banyak kaum muda kehilangan kepercayaan terhadap politik, seorang pemuda, Zulkifli menggelutinya. Zul, telah aktif sedari awal didunia gerakan kemahasiswaan, gerakan pemuda Islam, dan kini berpolitik praktis melalui Partai Kebangkitan Bangsa. Karena tempaan pengalaman dan pengetahuannya, Zul ditunjuk sebagai Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Kaltara, termuda dan cocok. Zul, kini menjadi caleg DPRD Kota Tarakan dan perlu didukung dan dipilih.


Usaha yang dilakukan oleh anak-anak muda ini tentu masih belum cukup, namun paling tidak sudah ada embrio gerakan masyarakat sipil di Tarakan menegisi kesenjangan program penguatan sumber daya manusia yang tidak dilakukan oleh pemerintah. Ke depannya, partai politik di Tarakan secara khusus dan Kaltara secara umum perlu meletakkan dasar mengedukasi kaum muda sekaligus memberi contoh untuk lebih melek politik yang beradab dan berintegritas.

Penulis : M. Noor
(International Labour Organization )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here