Kenalkan Kisah Pendiri HMI, MN KAHMI Luncurkan “Merdeka Sejak Hati”

64

PDKT.ME – Jakarta – Menjadi organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki sejarah panjang dan melahirkan banyak tokoh bangsa dari rahimnya. Berawal dari Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta (kini bernama Universitas Islam Indonesia/UII), empat belas tokoh menjadi motor penggerak lahirnya organisasi HMI ini. Salah satunya adalah Lafran Pane.

Sebagai salah satu pemrakarsa, Lafran Pane mengambil peran penting dalam HMI. Maka tidak salah jika tahun lalu, ia dinobatkan sebagai pahlawan Nasional karena kontribusinya membangun bangsa, salah satunya dengan mendirikan organisasi HMI. Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) mencoba mengenang dan mengenalkan kepada khalayak umum tentang siapa Lafran pane melalui sebuah buku.

Adalah Ahmad Fuadi, penulis best seller novel Negeri 5 Menara yang didapuk menuliskan buku tersebut dengan judul “Merdeka Sejak Hati”. Bekerjasama dengan Kompas Gramedia dan Reborn Inisiatif, buku yang mengupas tentang semangat perjuangan sosok Lafran Pane mulai kehidupan awal mendirikan HMI hingga akhir hayatnya ini akhirnya terbit dan diluncurkan ke publik pada Minggu (28/7/2019) di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

Akbar Tandjung, sebagai ketua dewan penasehat MN KAHMI dan sekaligus inisiator hadirnya novel ini mengatakan, bahwa sudah seharusnya khalayak Indonesia harus banyak belajar dari Lafran Pane, khususnya kader-kader HMI.

“Selain sebagai motivasi penyemangat, kisah hidup dan perjuangan Lafran Pane patut dipelajari banyak orang. Karena alasan awal beliau mendirikan HMI, tidak lain adalah sebagai respon atas permasalahan yang ada waktu itu,” kata Akbar Tanjung di tengah acara peluncuran buku tersebut.

Ahmad Fuadi selaku penulis buku menceritakan, awalnya ia merasa kesulitan mencari judul yang pas. Namun hingga akhirnya, Merdeka Sejak Hati adalah judul yang paling pas.

“Karena jika di pelajari segala sumber, baik dari informasi keluarga dan lain-lain, Pak Lafran Pane ini adalah sosok yang merdeka sejak hati. Ia memerdekakan dirinya sendiri, lingkungan lalu memperjuangkan kemerdekaan bersama,” kata Ahmad Fuadi.

Hal itu terlihat saat Pak Lafran masih tinggal di Medan. Lanjut Fuadi, pernah suatu ketika, beliau tinggal di emperan sebuah toko di Medan. Padahal pak Lafran adalah orang yang mampu. “Ini bukti bahwasanya beliau adalah orang yang merdeka. Makanya, pak Lafran ini ibarat sumur yang dalam, yang harus selalu kita gali dan ambil airnya,” pungkasnya.

Pada peluncuran buku ini, 5000 eksemplar pertama telah habis dalam forum lelang yang di adakan oleh MN KAHMI, di antaranya Akbar Tanjung dengan 1200 eksemplar, Prof. Siti Zuhro 2400 eksemplar dan sisanya adalah senior beserta tamu undangan yang lain. (Hakim/Bgs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here