Memilih Pemimpin Yang Layak Dipilih

0
866

Pdkt.me – Tidak lama lagi Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan digelar serentak pada 17 April 2019. Tentunya hal ini hendaknya menjadikan kita untuk bisa menjadi pemilih yang bijaksana dalam memilih pemimpin kita kedepannya. Tugas dan tanggung jawab calon-calon pemimpin kita kedepannya dan juga kita semua sebagai masyarakat adalah menjunjung tinggi asas kejujuran dan keadilan bersama serta Menjaga pelaksanaan Pileg dan Pilpres dari segala hal yang tidak diinginkan. Salah satu pembahasan menarik, Bagaimana memilih pemimpin yang layak dipilih?

Dalam sudut pandang agama islam sebagai agama yang mengatur penuh seluruh segi kehidupan manusia, memilih pemimpin bukan hanya sekedar urusan duniawi, memilih pemimpin pada hakikatnya adalah bagian dari urusan dunia sekaligus akhirat. Karena semua akan dipertanggung jawabkan.

Para pakar telah lama menelusuri Al-Qur’an dan Hadits dan menyimpulkan ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh para Nabi/Rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu:

Shidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kejujuran adalah lawan dari berbohong/dusta. Kejujuran merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin. Masyarakat menaruh empati terhadap pemimpin apabila ia diketahui memiliki sifat yang jujur. Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya (rakyat). Mereka sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan dengan seberapa jauh rakyat mempunyai kepercayaan bagi mereka. Pemimpin yang mempunyai sifat jujur dan sungguh-sungguh maka akan mudah diterima oleh masyarakatnya, sebaliknya pemimpin yang tidak jujur atau khianat akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur merupakan cerminan dari hatinya.

Amanah/Terpercaya, Pemimpin yang layak dipilih salah satunya adalah pemimpin yang amanah, yaitu sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, Amanah merupakan kualitas yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan kepadanya. Kepercayaan masyarakat berupa penyerahan segala urusan kepada pemimpin yang mereka yakinkan agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama. Seperti yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw. Hal ini seperti yang tertuang dalam QS. Al-Qashas:26 “ Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah ”. Pemimpin harus memberikan contoh keteladanan dalam membimbing rakyat/umatnya ke jalan yang mensejahterakan lahir dan batin. Pemimpin yang dapat bersikap adil dan bijaksana. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan haruslah dirasakan oleh semua golongan, seperti yang tertuang dalam QS Shad (38):22 “ Wahai daud, kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah keputusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu”.

Terjadinya banyak kasus korupsi di Negara kita merupakan bukti yang nyata bahwa bangsa Indonesia masih gagal dalam menciptakan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang tidak amanah pasti mengkhianati kepercayaan masyarakat dengan cara memperkaya diri dengan memanfaatkan jabatan yang mereka miliki. Pemimpin semacam ini sebenarnya tidak layak disebut sebagai seorang pemimpin.

Amanah erat kaitannya dengan tanggung jawab. Pemimpin yang amanah yang mampu mempertanggung jawabkan segala program-program yang mereka janjikan. Dan perlu diingat bahwa tanggung jawab juga bukan hanya sekedar melaksanakan tugas yang berorientasi terhadap keberhasilan dan ketuntasan. Tetapi bagaimana seorang pemimpin menyelesaikan persoalan dan konsekuensi atas kepemimpinannya.

Tabligh/Komunikatif, Seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi dan dekat dengan masyarakat dengan beragam kecenderungan dan sifat, adalah salah satu contoh pemimpin yang layak untuk dipilih. Akan tetapi anda juga harus cerdas untuk bisa memahami komunikasi yang dilakukan oleh calon pemimpin itu sendiri, jangan sampai kita salah memilih pemimpin yang munafik.

Pemimpin dituntut untuk membuka diri kepada rakyatnya, sehingga rakyatnya akan menimbulkan simpati dan juga rasa cinta. Keterbukaan pemimpin pada rakyatnya dapat dibentuk dengan membangun kepercayaan antara pemimpin dan rakyatnya. Salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin adalah keberaniannya menyatakan pendapat dan kebenaran dengan segala konsekuensinya. “Katakanlah atau sampaikanlah meskipun itu pahit rasanya.”

Akuntabel/Terbuka, yaitu seorang pemimpin yang terbuka, pemimpin yang sangat senang jika masyarakat menilai/mengkritik mereka. Akuntabilitas dalam islam mewajibkan para khalifah (pemimpin) mengontrol para pejabat Negara dan pegawainya dalam melakukan tugasnya. Kesuksesan kita dalam memilih pemimpin tidaklah hanya diukur dari pelaksanaannya yang aman, tetapi diukur dari apakah pemilihan tersebut menghasilkan terpilihnya pemimpin yang amanah dan mampu membawa rakyat yang dipimpinnya kepada kemakmuran masyarakat.

Fathanah/Cerdas, Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan yang tinggi melebihi kecerdasan masyarakatnya, sehingga akan timbul kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantunya dalam memecahkan masalah dan segala persoalan yang terjadi pada masyarakat. Pemimpin yang cerdas juga tidak mudah emosi dan frustasi, karena dengan kecerdasannya justru dia akan mencari solusi yang efektif dalam menuntaskan persoalannya dan tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama. Dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan tepat waktu.

Kecerdasan pemimpin tentunya harus ditopang dengan keilmuan yang dimiliki seorang pemimpin. Ilmu bagi pemimpin yang cerdas merupakan bahan bakar untuk terus mensejahterakan, memberikan kemakmuan bagi rakyatnya. Pemimpin yang cerdas selalu haus akan ilmu, karena baginya hanya dengan keimanan dan ilmu yang ia miliki dia akan memiliki derajat yang tinggi di mata manusia dan juga sang penciptanya. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran. “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi Ilmu Pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al Mujadalah:11)

Akhirnya, bangsa Indonesia harus sadar bahwa memilih pemimpin itu wajib. Tindakan apapun akan dipertanggungjawabkan, Tidak memilih pemimpinpun kelak juga akan dipertanggungjawabkan. Manusia hanya perantara saja meskipun ia adalah seorang pemimpin tinggi. Jika anda memilih seseorang yang menjadi pemimpin sudah wajar menginginkan pemimpin yang mengajak pada kebaikan, bukan pada keburukan.

Demokrasi pancasila adalah Demokrasi berdasarkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan berdasarkan kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentunya kita semua mengharapkan agar kelak pemimpin adalah sosok-sosok diatas. Memilih pemimpin yang beriman dan bertaqwa, jujur (shidiq), terpercaya (amanah), tabligh (komunikatif), dan fathanah (cerdas) adalah hukumnya wajib bagi umat islam. Bagi rakyat, hendaklah mereka juga bertaqwa kepada Allah dengan menunaikan kewajiban mereka, bersabar atas perkara yang tidak disukai, serta tidak merebut kepemimpinan. Jadilah rakyat yang selektif dalam memilih calon-calon pemimpin masa depan.

Berhati-hatilah dalam menentukan pilihan, gunakanlah waktu kampanye, suatu proses kita dapat mengetahui lebih dalam calon pemimpin kita sebaik-baiknya dan jangan ceroboh dan mudah terpengaruh oleh godaan-godaan yang menguntungkan salah satu pihak. Minta petunjuk kepada Allah dengan berdoa, “ Ya Allah berikanlah kami pemimpin yang hanya takut kepada-Mu dan mencintai kami.” (Hadi Istanto, S.Kom. – Pendiri & Admin PDKT – Peduli Kota Tarakan).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here