Mewaspadai Virus Informasi di Era Informasi

0
396

Pdkt.me – Salah satu dampak teknologi yang paling kita rasakan saat ini adalah mudahnya akses dan penyebaran informasi. Kemudahan akses tersebut bisa digunakan dalam banyak hal seperti berbisnis, berpolitik, menyampaikan aspirasi dan lain sebagainya. Hal ini makin dipermudah dengan hadirnya sosial media seperti facebook, twitter, instagram dan sejenisnya seperti BBM WhatsApp yang bisa diakses melalui handphone dan di lengkapi dengan fitur share untuk berbagi informasi. Resikonya juga sudah terlihat didepan mata, yaitu berita yang benar maupun berita palsu juga makin mudah tersebar. Prinsipnya di era banjir informasi ini, masyarakat jangan mudah percaya.

 

Setiap informasi yang tersebar melalui media online, sebaiknya masyarakat cek kebenarannya terlebih dahulu

 

Sikap terbaik dalam menghadai era bebas informasi ini adalah selalu menjunjung sikap tidak cepat percaya atau tabayyun. Di era banjir informasi seringkali banyak kita jumpai informasi sampah atau hoax. Masyarakat harus pintar memilih dan memilah untuk dapat informasi yang benar karena banyak penyebar informasi sampah yang memiliki tujuan tidak baik.

Bagi masyarakat sendiri juga dihimbau agar tidak mudah menyebar informasi meski dari grup atau komunitas sendiri sebelum di cek kebenarannya. Banyak grup WA, BBM  dan Facebook yang sekarang ini share informasi dengan tambahan catatan sumber informasi dari grup sebelah. Tentu saja ini belum tentu akurat kecuali jika berasal dari link sumber media cetak, media elektronik, media online yang resmi terdaftar dan jelas siapa penanggungjawabnya.

Ingat, masyarakat harus paham bahwa menyebarkan berita yang tidak benar (berita hoax) bisa diancam dengan UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dengan ancaman oidana sampai dengan 6 tahun penjara. Simak lebih lanjut ulasan detil UU ITE tersebut berikut ini:

 

Penyebar hoax bisa terancam Pidana 6 Tahun Penjara pada Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE

 

Era teknologi informasi yang serba mudah dalam mengakses berita sering membuat orang tanpa sadar ikut berbagi berita yang belum tentu benar. Jika berita bohong (hoax) tersebut membahayakan kepentingan publik, pembuat berita maupun penyebar berita bohong tersebut baik sadar atau sekedar ikut-ikutan bisa terancam pidana.

Ancaman penyebar berita hoax tersebut adalah pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE menyebutkan bahwa, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.”

Beberapa hal yang perlu diwaspadai masyarakat adalah:

  • Banyak pesan pendek (SMS), maupun e-mail hoax yang berseliweran dan belum tentu benar informasinya
  • Banyak yang ikut mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong.
  • Masyarakat jika mendapat pesan berantai yang hoax, agar tidak sembarangan menyebarkannya.Idealnya, masyarakat melaporkan saja infromasi tersebut kepada polisi karena pesan hoax sudah masuk delik hukum.

Laporan masyarakat terkait berita yang perlu di cek kebenarannya akan diproses oleh pihak kepolisian, baru kemudian polisi bisa melakukan penyidikan dengan bekerja sama bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan segenap operator telekomunikasi.

Ingat, Bahaya Hoax Mengincar Kita di Era Informasi Ini

Hoax atau berita palsu di era teknologi informasi ini makin cepat tersebar dan ada kecenderu

 

ngan orang sudah tidak peduli apakah berita yang dia terima benar atau tidak. Begitu langsung terima secepat itu juga di share ke publik. Hoax ini makin banyak dan mudah tersebar melalui SMS dan group  WhatsApp, BBM (BlackBerry Messenger) atau Group Facebook seperti Group PDKT.

Makin heboh dan menimbulkan ketakutan akan berita yang disebar, maka tujuan pembuat berita hoax makin tercapai. Perlu diketahui bahwa hoax membahayakan kondisi sosial di era teknologi ini.

 

Hoax merupakan bagian dari penipuan publik dan merusak karakter target yang diincar

Tak jarang penebar berita hoax mengirimkan berita palsu untuk tujuan meipu atau kegiatan ilegal lainnya. Dalam dunia politik, seringkali juga ditemukan tujuan berita bohong adalah untuk menyerang lawan politik untuk merusak karakter mereka.

Hoax mengincari kepanikan publik

Pembuat berita palsu paling puas jika berita palsu yang mereka buat bisa menimbulkan kepanikan publik. Tak jarang, untuk menghentikan kepanikan, biasanya media massa atau media online harus membantu masyarakat dan mengklarifikasi bila kabar-kabar yang tersebar di media online tersebut hanyalah hoax.

 

Generasi Millenial Paling Rentan dengan Bahaya Hoax

 

Generasi millenial yang lahir pada era tahun 1980-an hingga 2000-an—merupakan generasi yang erat kaitannya dengan dunia digital sejak mereka masih kecil. Generasi ini tentu saja dinilai paling rentan akan bahaya berita bohong atau hoax tersebut.

Indonesia harusnya bisa semakin maju dan produktif karena menikmati ‘bonus’ demografi di 2030 nanti, sehingga jangan sampai justru malah diisi oleh orang-orang yang tidak cerdas dalam bermedia sosial. Perlu sosialisasi akan bahaya dari penyebaran berita hoax itu sendiri kepada genarasi ini.

Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam setiap komunitas anti hoax adalah hal berikut ini:

  • Perlunya Code of Conduct, semacam aturan berkomunikasi dengan cerdas di media sosial, selain itu ada pula gerakan literasi media ke masyarakat, roadshow ke institusi pendidikan, seperti kampus, sekolah,pesantren, ormas, ulama dan pemuka agama, budayawan, Admin Group Facebook dan banyak lagi.
  • Perlu makin digencarkan kampanye Masyarakat Indonesia Anti-Hoax adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat agar peduli memerangi penyebaran informasi hoax di media sosial.
  • Gerakan Masyarakat Indonesia Anti-Hoax ini juga telah dibentuk di kota-kota lain. Cara kerjanya akan disesuaikan dengan kebutuhan daerah tersebut.

 

Dukung Menkominfo dalam Menertibkan Media Online Tak Jelas

 

Awal mula hoax adalh adanya sumber berita onlien yang tidak terkontrol. Oleh karena itu perlu kiranya kita dukung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang bekerja sama dengan Dewan Pers menertibkan media-media online yang tidak memiliki identitas jelas.

Dukungan tersebut bisa dalam bentuk bekerja sama untuk menanggulangi penyebaran berita hoax dan menyesatkan publik yang disebarkan oleh media-media ‘abal-abal’ tersebut. Berikut ini data yang pernah tercatat di Kemenkomnfo terkait bahaya medio online dan hoax yang tidak jelas tersebut:

  • Berdasarkan data Dewan Pers ada 40.000 yang mengklaim diri media online, tapi yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers sebagai media yang sebenarnya tak lebih dari 300. Ciri dari media tidak jelas itu salah satunya adalah ketidakjelasan nama dan identitas jajaran redaksi.
  • Belakangan ini Kominfo telah memblokir 11 situs lagi yang dianggap melemparkan provokasi berbau SARA.

Kemajuan teknologi memang telah mengubah peradaban manusia, salah satunya dalam hal berbagi informasi. Banyak peluang baru di berbagai bidang terbuka dengan adanya teknologi ini, namun tak jarang juga resiko yang siap mengancam kita. Salah satunya terkait penyebaran berita bohong atau hoax.

Masyarakat harus paham bahwa kemudahan berbagi berita ada aturan main yang harus dipenuhi. UU ITE telah mengatur ancaman pidana bagi pelaku yang membuat berita bohong maupun pihak yang ikut menyebarkannya baik sengaja atau tidak. Pemerintah telah berupaya kuat menanggulangi masalah ini dengan berbagai cara, masyarakat harus mendukung upaya tersebut agar berhasil.

 

Oleh : Hadi Istanto, S.Kom.

Pendiri & Admin PDKT

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here